Senin, 30 Januari 2012

PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA


I.       PENDAHULUAN
Suatu kenyataan empirik bahwa pembelajaran bahasa Inggris sebagai L2, banyak  mengalami kendala bahkan sudah menjadi persoalan klasik bagi siswa di sekolah. Sejak bahasa Inggris dimasukan ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia sebagai L2  sampai sejauh ini belum menunjukkan perubahan yang signifikan bagi pembelajar. Bahkan hampir semua siswa di seluruh pelosok Nusantara ini mengeluh dan merasa sebuah pelajaran yang membebankan, serta menakutkan. Namun persoalan itu, ibarat makan buah simalakama. Ini sebuah kenyataan empirik bahkan sudah memfosil dalam benak anak-anak didik kita di Indonesia secara umum. Lalu pertanyaan kita, apakah bahasa Inggris yang harus di delete dari bumi Indonesia ini. Tentu saja tidak demikian. Persoalan tersebut akan menantang kita sebagai pendidik (pengajar) untuk menunjukkan eksistensi kita terhadap strategi apa yang hendak diciptakan agar dapat menekan image  yang telah memfosil tersebut. Oleh karena itu, makalah ini mencoba mengedepankan mind set tentang pengajaran bahasa Inggris sebagai pembelajar L2, walaupun masih sebatas pemahaman awal. Agar kajian makalah ini terarah maka penulis mengangkat persoalan pengajaran bahasa Inggris terbatas pada satu ketrampilan (skill) saja yakni  keterampilan menulis. Kemudian focus kajiannya pada anak didik atau siswa kelas VI SD yang sudah melewati dua tahun pembelajaran bahasa Inggris di sekolahnya. Karena bagaimanapun mereka selangkah lagi ke jenjang sekolah menengah. Adapun masalah yang diangkat dapat dirumuskan sebagai berikut, yakni Bagaimanakah pengajaran menulis bahasa Inggris bagi siswa kelas VI SD sebagai Pembelajar L2? Adapun tujuannya untuk menjelaskan pendekatan pengajaran bahasa Inggris yang relevan dengan siswa kelas VI SD sebagai pembelajar L2.
Makalah ini dapat memberikan pemahaman teoretis tentang keterampilan menulis. Menulis merupakan persoalan yang sangat penting dalam kehidupan kita. Di samping kita berbicara tentu kita juga menyampaikan sesuatu maksud secara tertulis. Berkaitan dengan itu, Pontercorvo (1996) menyatakan bahwa  kontruksi awal pengajaran bahasa adalah Teks (spoken dan writing practice). Namun perhatian terhadap keterampilan menulis di lingkungan keluarga dan di sekolah belakangan ini semakin rendah. Keterampilan menulis bukan lagi menjadi suatu hal yang biasa bagi siswa. Membiasakan siswa dalam aktivitas menulis sebuah langkah awal pembelajaran bahasa kedua (L2). Pada lingkungan keluarga (informal) Misalnya, berperan sangat penting dalam mendorong siswa untuk aktivitas menulis. Sejauh lingkungan tersebut tidak mendukung maka akan berpengaruh terhadap aktivitas menulis siswa di sekolah. Menurut Pontercorvo (1996) perlu adanya interaksi antara pertumbuhan kompetensi siswa (children’s growing comptance) dan intruksional lingkungan (instructional environment) dalam keluarga. Rupanya kedua keterampilan menulis dan membaca memiliki korelasi yang saling mendukung yang agak sulit dipisahkan terhadap satu dengan yang lainnya. Perbedaannya, menulis merupakan proses koginitif (cognitive process) sedangkan membaca merupakan proses pemahaman (Pontecorvo dan Orsolini,1996). Dibeberapa Negara di Eropa, Writing tidak hanya dibutuhkan dalam konteks social, tetapi juga morally dangerous for woman, karena mereka dapat menggunakannya untuk keperluan menulis surat  cinta atau korespondensi (Petrucci, 1978).
Kemudian diikuti oleh dua keterampilan lainnya, yakni menyimak dan berbicara. Persoalan menulis memang membutuhkan suatu keterampilan atau kemampuan apalagi penulisan bahasa Inggris sebagai L2. Sebab dalam kegiatan menulis L2  banyak aspek (sistem menulis) yang harus diketahui penulis, di antaranya ejaan, kosakata,struktur kalimat, mengorganisasikan ide secara teratur sehingga menarik dibaca bagi orang lain.
II.    PEMBAHASAN
Kajian makalah ini berfokus pada persoalan teoretis mengenai dasar dalam pengembangan menulis  dalam konteks L2 (bahasa kedua). Ada dua hal utama yang perlu dijelaskan dalam makalah ini adalah
Pertama, menulis yang baik menggacu pada konsep Rivers (1987) yang menyatakan bahwa penulis yang baik dapat mengekpresikan pemikiran atau idenya secara jelas dengan memperkecil tingkat kekeliruan, dan pengembangan menulis mengacu pada beberapa konsep berikut ini, di antaranya Britton et al (1975:83), menyatakan bahwa pertumbuhan. Kemampuan menulis seseorang melalui suatu jangka waktu tertentu, dan selama proses pertumbuhan kemampuan, seorang penulis pemula dari kondisi normal akan berkembang menjadi  penulis yang cukup matang atau harus melalui sejumlah fase.  Raison dan Rivalland (1995)  menulis harus melewati fase experimental writing, early writing, conventional writing, dan proficient writing.
Kedua, pengembangan kemampuan menulis bahasa kedua (L2) yang menitikberatkan pada pembelajaran konteks, karakteristik pengembangan menulis pada L2, menulis  L1 dan L2 sebagai suatu keterampilan interkonek yang mengacu pada konsep-konsep berikut di antaranya Barone (1993) yang mengakui bahwa pembelajaran menulis L2 cukup kompleks.
Pembelajaran L2 lebih kompleks daripada L1. Karena pembelajaran L2 harus memahami latar belakang L1 dan konteks social. Peran instruksi dalam pengembangan keterampilan menulis mengacu pada konsep Gray (1986) dan Hinds (1987) yang menyatakan untuk meningkatkan dan menyempurnakan keterampilan atau pengetahuan  dari L1 ke L2 peran program bahasa di sekolah  umumnya mendorong pembelajar menulis L2 memanfaatkan akses umum dan memahami  struktur umum yang membedakan suatu bahasa.
Pengajaran menulis harus dimulai dari lingkungan keluarga walaupun bersifat informal. Perkembangan yang dimaksudkan adalah pertumbuhan kemampuan menulis pribadi dalam jangka waktu tertentu. Pembelajaran informal misalnya, biasanya untuk menambah kemampuan menulis yang didapatkan di sekolah sebagai pendidikan formal. Karena pembelajaran informal tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran formal.
Pembelajaran menulis melalui jalur formal,  memang jauh lebih kompleks misalnya aktivitas membaca,  menulis (merevisi, dan menulis ulang), mengerjakan tugas, dan dapat berinteraksi dengan teman-teman serta guru-guru di sekolah. Dalam pembelajaran menulis secara informal bagaimanapun tidak cukup, kecuali kalau mempunyai latar belakang literasi individu (individual’s literacy background) dan konteks sosial (social contexts) yang bisa diterima. Latar belakang literasi (apakah pembelajar telah mempunyai kemampuan membaca dan menulis dalam L1 dan L2 atau keduanya) dan konteks sosial (apakah keluarganya atau teman-temannya memberikan dukungan) yang kuat sehingga dapat menentukan pengembangan literasi seseorang. Pembelajaran menulis  L2  harus mengikuti fase-fase tertentu misalnya dimulai dari lingkungan keluarga itu sendiri melalui experimental writing, early writing, conventional writing, dan proficient writing. Sehingga pengembangan menulis dari pemula menjadi matang. Suatu asumsi bahwa jika pembelajar mempunyai kemampuan menulis dalam L1 dan L2 atau keduanya dan keluarganya atau teman-temannya memberikan dukungan yang tinggi) dapat menentukan pengembangan menulis L2 seseorang.


Tulisan ini dapat memberikan kontribusi pemikiran terhadap pembelajaran menulis L2 terutama dalam memberikan motivasi bagi para siswa di sekolah. Karena sejauh ini sebagian besar siswa menaruh perhatian yang begitu tinggi terhadap pembelajaran formal saja seperti di sekolah. Bahkan menganggap pembelajaran formal merupakan satu-satunya. Sehingga kemampuan pembelajar menulis L2 cukup rendah. Padahal pembelajaran informal seperti di rumah, dapat berpengaruh terhadap pengembangan menulis bagi seorang pembelajar. Pembelajaran menulis L1 dan Lmerupakan keterampilan yang saling berhubungan (interkonek).
Persoalan pengembangan menulis L2 dalam makalah ini masih bersifat dasar harus melalui fase-fase tertentu untuk mengembangkannya. Ikwal menulis, tidak terlepas dari metode-metode pembelajaran yang menarik bagi anak-anak. Karena yang menjadi persoalan  dalam pengembangan menulis  L2  bukan hanya pada tahapan-tahapan menulis seperti experimental writing, early writing, conventional writing, dan proficient writing seperti yang diungkapkan oleh Raison dan Rivalland (1995) melainkan metode yang menarik bagi siswa untuk pembelajaran L2. Ikwal tersebut merupakan persoalan menarik yang harus dikaji. Karena kondisi riil  pembelajaran L2  dalam pendidikan formal akhir-akhir ini melahirkan pembebanan bagi pembelajar karena yang diajarkan adalah struktur meluluh apalagi mereka tidak merasa tertarik terhadap L2.

III. PENUTUP

Dalam pengembangan menulis L2 diharapkan dimulai dari lingkungan keluarga itu sendiri melalui experimental writing, early writing, conventional writing, dan proficient writing kemudian dipadukan dengan pengetahuan di sekolah sebagi pendidikan formal. Tidak dapat dibantah bahwa pengajaran dan pembelajaran formal jauh lebih kompleks daripada informal. Tetapi keduanya merupakan satu-kesatuan.






BIBLIOGRAFI


Pontercorvo, Clotilde. Margherita  Orsolini. Barbara Burge. Lauren B.Resnick. 1996. Children’s Early Text Contruction. Lewrence Erlbaum Associates. Inc.Publishers. Malwah. New Jersey 07430.
Olson, David R.1996. The World On Paper: The Conceptual and Cognitive Implications of  Writing and Reading. Cambridge University Press.
Durguno─člu, Aydin Y├╝cesan. 2011. Language and   Literacy Development in Bilingual Settings.
Rosenberg, Sheldon. 1987. Advances In Applied Psycolinguistics. Volume 2 . Reading, Writing, and Language Learning.
Van der Hoeven, Jose. 1997. Children’s Composing: A Study Into The Relationships Between Writing Process, Text quality, and Cognitive and Linguistics Skills.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar